Bahkan, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang dipimpin Erick Thohir, dan Wamenpora, Taufik Hidayat, yang juga sebagai Olympian tidak ada simpatinya.
Tidak tampak Erick Thohir dan Taufik Hidayat
menunjukkan empati, baik dalam bentuk kunjungan, pernyataan resmi, apalagi bantuan konkret.
Ketiadaan respons ini memunculkan pertanyaan, apakah jasa atlet hanya dihargai saat mereka masih produktif, lalu dilupakan ketika mereka jatuh?
Sorotan tajam juga mengarah ke (IOA) yang dipimpin mantan petenis Yayuk Basuki, Organisasi yang seharusnya menjadi rumah bagi para mantan Olympian itu justru terkesan bungkam.
Tidak ada tanda-tanda solidaritas, meski sebelumnya IOA disebut pernah mengelola dana sponsor hingga Rp.2,5 miliar, transparansi dan akuntabilitas pun dipertanyakan.
Indonesia Peduli Olahraga (IPO) bahkan melontarkan usulan ekstrem, kepada Presiden RI Prabowo Subianto agar memasukkan nama Menpora dan Wamenpora dalam daftar evaluasi serius kabinet.
Kasus Pino Bahari membuka kembali luka lama, pola pengabaian terhadap atlet setelah masa kejayaan usai.
