Sejalan dengan kondisi tersebut, hingga awal April 2026 jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, Faisal menjelaskan bahwa potensi karhutla diprediksi mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.
Sebagai upaya mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Faisal menjelaskan bahwa ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.
Dalam pelaksanaannya, strategi BMKG mencakup pemantauan dan prediksi iklim secara berkala, pemanfaatan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, pemantauan hotspot dan sebaran asap, serta prediksi potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan. Selain itu, BMKG juga memperkuat diseminasi informasi peringatan dini serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah dilaksanakan.
