Lebih jauh, dirinya menggarisbawahi bahwa kekuatan kota justru lahir dari keberagaman yang dikelola dengan baik.
“Seringkali kita berpikir kebersamaan lahir karena kesamaan. Padahal justru karena perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan berarti,” tegasnya.
Karnaval Paskah tahun ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana ruang sosial dibangun agar mampu merangkul semua lapisan masyarakat secara adil dan setara.
Di tengah riuh perayaan, pesan inklusivitas itu justru berbicara paling lantang bahwa kota yang maju bukan hanya yang tumbuh secara fisik, tetapi yang mampu memastikan setiap warganya hadir, terlihat, dan dihargai. Dari langkah para difabel yang tampil percaya diri di ruang publik, kota Semarang menegaskan satu hal bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang terus dihidupkan bersama. (Muhamad Solihin)
