“Saya mengapresiasi inisiatif warga yang mengerjakan dengan kreativitasnya, dengan niat membantu. Ini yang sebetulnya harus digandeng dan diajak kolaborasi oleh dinas terkait maupun Pemprov,” ujarnya.
Meski demikian, Yuke mengingatkan bahwa pembuatan zebra cross tetap harus mengacu pada aturan yang berlaku, terutama dari sisi keselamatan lalu lintas. Ia menilai desain yang terlalu mencolok berpotensi menimbulkan risiko, khususnya di kawasan dengan lalu lintas padat.
“Kalau terlalu fancy di tempat-tempat yang riskan, itu bisa membahayakan, misalnya orang jadi melambat saat menyeberang karena melihat gambar, sementara lalu lintasnya padat,” tuturnya.
Ia pun membuka peluang penerapan zebra cross kreatif di lokasi tertentu yang memiliki risiko lalu lintas lebih rendah, seperti di sekitar taman atau kawasan ramah pejalan kaki. Menurutnya, desain yang menarik juga dapat menjadi sarana edukasi, terutama bagi anak-anak, agar lebih disiplin saat menyeberang jalan.
“Di tempat tertentu yang tidak terlalu riskan, itu bisa dibuat menarik dan estetik, bahkan bisa jadi edukasi agar orang mau menyeberang di zebra cross,” kata Yuke.(Vinolla)
