IPOL.ID – Lonjakan harga BBM non subsidi mulai berdampak pada layanan transportasi pelajar di Kabupaten Gunungkidul. Dinas Perhubungan (Dishub) setempat terpaksa memangkas jadwal operasional bus sekolah karena keterbatasan anggaran akibat naiknya harga dexlite.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul, Sigit Wijayanto, mengatakan lonjakan harga BBM jenis dexlite menjadi beban utama operasional bus sekolah. Dalam dua bulan terakhir, harga dexlite disebut naik dari Rp14.200 per liter menjadi Rp26.000 per liter.
“Kenaikan ini sangat berpengaruh terhadap operasional. Dengan kondisi sebelumnya saja, saat harga Rp23.600 per liter, anggaran diperkirakan hanya cukup sampai akhir Juni,” ujar Sigit, dikutip Rabu (13/5/2026).
Dishub Gunungkidul mencatat setiap unit bus sekolah membutuhkan anggaran sekitar Rp392 juta per tahun. Anggaran tersebut digunakan untuk pembelian BBM, perawatan rutin, hingga pembayaran pajak kendaraan. Saat ini terdapat tujuh unit bus sekolah yang melayani pelajar di sejumlah kecamatan.
