“Kita mengalami kerugian, lalu kita menghitung,” ujarnya.
Di saat Indonesia membutuhkan teknologi, lalu membelinya. Menurutnya, apabila situasi tersebut terus berlangsung, Indonesia akan tetap berada dalam posisi yang sama, yaitu rentan, mahal dan bergantung.
“Ini bukan strategi sama sekali, ini adalah siklus ketergantungan,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Wamen Bappenas Febrian sangat mendukung kemandirian inovasi teknologi dan industrialisasi kebencanaan yang terus diupayakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan semua pihak.
Febrian berharap Indonesia bukan lagi menjadi pasar tetapi sebagai provider teknologi kebencanaan global. Ini tentu beralasan mengingat Indonesia sangat memahami bencana.
“Kita punya kompleksitas risiko, kita punya laboratorium alam terbesar, punya kebutuhan riil yang tidak pernah bisa ditunda, dan dalam dunia inovasi, kebutuhan mendesak adalah bahan bakar paling kuat bagi lahirnya teknologi,” tukas Febrian.
Wamen Bappenas meyakini, apabila para pemangku kepentingan mampu mengelola ini semuanya dengan benar, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara tangguh terhadap bencana.
