Lebih lanjut, dia menekankan bahwa organisasi ini perlu bertransformasi menjadi kekuatan produktif yang mampu menciptakan nilai tambah, bukan hanya bergantung pada proyek-proyek pemerintah.
William juga menyoroti persoalan efisiensi ekonomi nasional masih menjadi tantangan. Tingginya rasio ICOR menunjukkan bahwa penggunaan modal belum optimal.
Untuk itu, HIPMI bakal hadir sebagai agen penurun ICOR melalui peningkatan Total Factor Productivity (TFP), dengan mendorong digitalisasi usaha, pemanfaatan teknologi, serta efisiensi rantai pasok.
“Dengan pendekatan ini, investasi diharapkan mampu menghasilkan output lebih besar, berkelanjutan,” katanya.
Di sisi lain, William menawarkan solusi dalam memperkuat penerimaan negara. Dalam kondisi pemerintah yang menjaga daya beli masyarakat, termasuk mempertahankan tarif PPN di angka 11 persen, dia melihat pentingnya perluasan basis pajak melalui penciptaan lapangan kerja formal.
HIPMI akan difokuskan sebagai wadah pengembangan pengusaha muda mampu tumbuh dan memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara.
