Meski begitu, tekanan terhadap rupiah belum mereda. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sangat dipengaruhi arus keluar dolar AS dari Indonesia.
“Tekanan utama saat ini berasal dari meningkatnya kebutuhan dolar AS, sementara pasokannya menurun,” ujar Yusuf kepada Redaksi.
Data Bank Indonesia mencatat neraca pembayaran Indonesia pada kuartal I-2026 mengalami defisit hingga 9,15 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat tajam dibanding kuartal IV-2025 yang sekitar 6 miliar dolar AS.
Tak hanya itu, transaksi berjalan juga berbalik dari surplus 2,5 miliar dolar AS menjadi defisit 4 miliar dolar AS atau sekitar 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dalam satu kuartal terjadi perubahan sekitar 6,5 miliar dolar AS. Itu bukan angka kecil,” kata Yusuf.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan fundamental eksternal Indonesia sedang menghadapi tekanan serius. Meski ekonomi domestik masih tumbuh, nilai tukar rupiah tetap rentan jika kebutuhan dolar AS lebih besar dibanding pasokannya.
