Dari sisi devisa, surplus perdagangan juga mengalami penurunan dari sekitar 10,2 miliar dolar AS menjadi 8 miliar dolar AS akibat melambatnya permintaan ekspor dari negara mitra dagang.
Di saat bersamaan, pembayaran keuntungan dan bunga kepada investor asing meningkat sehingga memperlebar defisit pendapatan primer.
“Kalau disederhanakan, dolar AS yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Itu inti persoalannya,” jelas Yusuf.
Ia menilai langkah BI dan Kemenkeu sejauh ini sudah berada di jalur yang benar. Namun, kebijakan tersebut lebih bersifat meredam gejolak jangka pendek, belum menyentuh akar persoalan utama.
Menurut Yusuf, pemerintah perlu memastikan devisa hasil ekspor benar-benar masuk dan disimpan di dalam sistem keuangan domestik agar pasokan dolar AS tetap terjaga.
“Secepat apa pun intervensi BI, kalau suplai dolar AS terus menipis, tekanan terhadap rupiah akan tetap muncul,” katanya.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menambahkan bahwa stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan BI. Dibutuhkan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang seimbang serta komunikasi kebijakan yang solid.
