Menurut Yusuf, dampak pertama yang terasa adalah meningkatnya beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta. Selain itu, biaya pendanaan juga akan ikut naik karena imbal hasil obligasi terdorong meningkat sehingga ruang ekspansi dunia usaha makin terbatas.
“Dalam jangka menengah, reputasi Indonesia sebagai tujuan investasi juga bisa ikut tergerus,” katanya.
Ia menjelaskan, investor global tidak hanya mempertimbangkan insentif pajak dan biaya tenaga kerja murah, tetapi juga stabilitas ekonomi makro serta kepastian kebijakan jangka panjang.
Tak hanya itu, pelemahan rupiah juga diperkirakan memicu kenaikan harga berbagai barang impor yang masih dibutuhkan Indonesia, seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat-obatan, hingga bahan baku industri.
“Tempe dan tahu hampir pasti ikut naik,” ujarnya.
Keluhan juga datang dari kalangan pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan, pelemahan rupiah mulai memengaruhi psikologis dunia usaha karena berdampak langsung terhadap biaya produksi dan arus kas perusahaan.
