“Bapak-Ibu yang saya cintai dan banggakan, hari ini jadi langkah terakhir saya di tengah keluarga Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan sebagai wali kota,” tutur Anwar mengenakan peci hitam di hari baik Jumat.
Ucapan terlontar dari mulut Anwar itu spontan membuat suasana berubah emosional. Sejumlah pegawai dan ASN pun mengusap air mata.
Sejatinya, bagi Anwar, perpisahan itu bukan sekadar akhir masa jabatan. Ada banyak cerita bakal ngangeni yang tertinggal selama masa pengabdiannya di Jakarta Selatan.
Anwar mengaku tidak mudah mengucapkan salam perpisahan karena terlalu banyak kenangan, perjuangan, canda, hingga lelah yang telah dilalui bersama para pegawai.
“Bagi saya, Jakarta Selatan tidak sekadar tempat bekerja dan mengabdi, tapi sudah seperti rumah. Semua di sini sudah saya anggap sebagai keluarga,” ucapnya.
Suara Anwar beberapa kali bergetar, berupaya menahan tangis saat mengenang kebersamaan dengan seluruh jajaran Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
“Saya bakal mengingat setiap kenangan, setiap kerja sama, dan setiap doa menguatkan langkah saya,” ujarnya sambil menyeka air mata dengan tisu diberikan istri tercinta.
