Dalam memorinya, Anwar mengatakan, kedekatannya dengan para pegawai bukan sekadar hubungan formal antara atasan dan bawahan. Dia merasa tumbuh dan berjuang bersama mereka.
“Saya merasa sebagai bagian dari mereka. Ini adalah keluarga besar saya. Waktu satu tahun terasa seperti sepuluh tahun di Jakarta Selatan. Artinya kami sudah saling menjiwai, seolah-olah kami satu darah,” kata Anwar.
Dia mengibaratkan hubungan itu seperti jari-jari tangan yang saling terhubung.
“Ibarat jari, jika satu bagian sakit, bagian lainnya pun turut merasa sakit. Itulah sebabnya saya merasa sangat berat untuk pergi,” ungkapnya.
Meski demikian, Anwar menyadari masa jabatannya memang telah usai berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang diterimanya.
Di tengah suasana haru itu, Anwar masih sempat melontarkan cerita ringan yang membuat beberapa pegawai tersenyum. Dia mengaku, hingga beberapa saat sebelum meninggalkan kantor, dirinya masih diminta menandatangani dokumen gaji pegawai.
“Tadi pun saat saya di pintu hendak pulang, saya masih diminta untuk menandatangani dokumen gaji. Alhamdulillah,” ujar Anwar disambut tawa dan tepuk tangan.
