“Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan,” jelas Wamenkeu.
Strategi fiskal yang kedua melalui optimalisasi penerimaan negara. Momentum kenaikan harga komoditas dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, optimalisasi penerimaan pajak semakin diperkuat melalui implementasi sistem Coretax.
Sementara itu, strategi fiskal yang ketiga dari sisi pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, strategi pembiayaan diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang non-USD dan tingkat bunga kompetitif seperti Samurai bonds berdenominasi mata uang Yen (JPY), Dim Sum bonds dengan mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds dengan mata uang Dolar Australia.
Wamenkeu menjelaskan, efektivitas dari penerapan strategi fiskal tersebut tercermin langsung pada performa ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat di angka 5,61%. Di samping pertumbuhan yang tinggi, laju inflasi tetap berada di level yang terjaga 2,42%, defisit fiskal terkendali 0,64% pada April 2026, dan yield SBN dan spread masih terjaga.
