Supriyadi menjelaskan bahwa penyelenggaraan Waisak tidak hanya bersifat rutin keagamaan semata, tetapi juga menjadi wadah pengembangan spiritualitas bagi umat yang hadir. Meskipun kapasitas area lapangan kenari Zona 1 diperkirakan tidak mencapai 10.000 orang, sehingga sebagian peserta berada di luar lapangan, tempat perayaan dirancang sebagai ruang publik yang inklusif untuk memberikan pengalaman spiritual atas candi Buddha.
Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan candi untuk kegiatan keagamaan sesuai dengan peraturan kebudayaan yang berlaku. Kementerian Agama, lanjut Supriyadi, berupaya menghadirkan pendekatan spiritualitas dan kebudayaan sehingga candi benar-benar memberi manfaat bagi pengunjung.
“Tentu yang kami lakukan adalah bagaimana agar candi ini juga dipergunakan dengan pendekatan spiritualitas ber-kebudayaan. Artinya, ruang ini harus betul-betul bisa memberikan manfaat bagi setiap orang yang akan berkunjung ke Candi Borobudur,” kata Dirjen.
Mengenai makna dan semangat Waisak, Supriyadi menyoroti keunikan perayaan Waisak di Indonesia yang memiliki tradisi tersendiri dan menjadi agenda penting yang terus didukung pemerintah. Dirinya berharap perayaan ini dapat membangkitkan semangat persatuan, kerukunan, dan toleransi di antara umat dan masyarakat luas.
