PDGE menilai kabinet sebelumnya gagal mempercepat sejumlah proyek pembangunan. Selain itu, pemerintah juga dituding membiarkan praktik korupsi, penyalahgunaan sumber daya negara, serta penggunaan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi.
Presiden juga menyoroti mandeknya upaya diversifikasi ekonomi, terutama di sektor pertanian. Akibatnya, Guinea Ekuatorial masih bergantung pada impor untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri.
Selama ini, ekonomi negara tersebut sangat bergantung pada sektor minyak dan gas. Namun, penurunan produksi dan melemahnya permintaan minyak dalam beberapa tahun terakhir membuat pertumbuhan ekonomi melambat.
Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, sebagian besar dari sekitar 1,8 juta penduduk Guinea Ekuatorial masih hidup dalam kemiskinan. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan besar yang belum berhasil diatasi pemerintah.
Presiden Teodoro Obiang sendiri telah memimpin Guinea Ekuatorial sejak 1979 dan dikenal sebagai salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Selama berkuasa, sejumlah anggota keluarganya menempati posisi penting di pemerintahan, termasuk putranya yang kini menjabat sebagai wakil presiden. (far)

