Selain itu, Indonesia menyumbang sekitar 6,5 persen beban disabilitas akibat stroke secara global.
Menurut dr. Yuli, dampak stroke tidak hanya terlihat dari angka kematian, tetapi juga dari gangguan fisik dan kognitif jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kemandirian penyintas. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan layanan rehabilitasi terus meningkat.
“Rehabilitasi bukan lagi layanan pelengkap. Rehabilitasi telah menjadi bagian esensial dari pelayanan kesehatan modern karena berperan penting dalam membantu pasien mendapatkan kembali fungsi dan kemandiriannya,” katanya.
Peningkatan kebutuhan layanan tersebut juga tercermin dari pembiayaan kesehatan. Klaim pelayanan terkait stroke meningkat dari Rp2,7 triliun menjadi Rp5,6 triliun hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, Kementerian Kesehatan saat ini tengah membangun ekosistem robotika kesehatan yang terintegrasi. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan mitra industri, serta penyusunan berbagai kebijakan pendukung.
