“Hal yang menjadi kendala selama ini adalah terkait delay pesawat. Kita tahu beberapa penerbangan mengalami keterlambatan berjam-jam sehingga membuat jemaah merasa lelah. Namun kita juga memahami bahwa biasanya hal ini terjadi akibat kendala teknis,” jelasnya.
Selain itu, Atalia juga menyoroti persoalan kelebihan bagasi yang kerap terjadi karena banyak jemaah membawa oleh-oleh dalam jumlah besar untuk keluarga di kampung halaman. Menurutnya, masalah terbesar justru berasal dari air zamzam yang dibawa secara mandiri oleh jemaah.
“Yang paling berat kaitannya dengan air zamzam. Banyak jemaah merasa air zamzam adalah oleh-oleh yang paling berharga, sehingga mereka mencoba memasukkannya ke dalam koper bagasi. Akibatnya koper menjadi overweight dan harus dibuka kembali saat pemeriksaan,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Atalia, tidak hanya memperlambat proses keberangkatan pulang, tetapi juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi jemaah karena barang bawaan mereka harus diperiksa ulang. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah memperkuat sosialisasi terkait barang-barang yang diperbolehkan maupun dilarang dibawa dalam bagasi pesawat.
