“Perbedaan pendapat adalah bagian dari dinamika organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak dapat bekerja sama, saling mendukung, dan bergotong royong demi kemajuan organisasi,” ujarnya.
Susanto berharap pembinaan olahraga, khususnya melalui tinju dan cabang bela diri lainnya, dapat menjadi sarana positif bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat sekaligus menjauhkan mereka dari berbagai pengaruh negatif di lingkungan sekitar.
Dari sisi sosial, program pembinaan yang dijalankan Ghosun Iron Camp diharapkan mampu memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan potensi diri serta membangun masa depan yang lebih baik. Namun demikian, keberhasilan program tersebut akan sangat bergantung pada kesinambungan pembinaan, dukungan keluarga, serta kolaborasi antara komunitas olahraga, pemerintah, dan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Ghosun Iron Camp berupaya menempatkan olahraga tidak hanya sebagai sarana prestasi, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial dan pembangunan karakter generasi muda. (bam)
