Sorotan berikutnya mengarah kepada Ahmad Najmi Shahab. Pria yang baru berusia 27 tahun itu diketahui pernah menjadi tim kreatif Rumah Besar Relawan Prabowo pada Pilpres 2024 sebelum dipercaya menjadi Komisaris PT Krakatau Semen Indonesia. Meski memiliki pengalaman di bidang komunikasi, digital, dan industri kreatif, penunjukannya tetap memicu perdebatan mengenai relevansi kompetensi dengan sektor industri semen.
Selain dua nama tersebut, warganet juga menyoroti sejumlah figur lain yang berasal dari kalangan relawan, tim sukses, maupun orang dekat pejabat pemerintahan yang belakangan memperoleh kursi komisaris di berbagai perusahaan negara. Pola pengangkatan inilah yang kemudian memunculkan kritik mengenai dugaan menguatnya praktik politik balas jasa yang meniadakan merit sistem. Meski demikian pemerintah belum pernah menyatakan bahwa pengangkatan tersebut dilakukan atas dasar kedekatan politik.
Di media sosial, kritik tidak hanya diarahkan kepada individu yang diangkat, tetapi juga terhadap sistem rekrutmen komisaris BUMN. Banyak pengguna X mempertanyakan apakah prinsip merit system yang mengedepankan kompetensi, pengalaman, integritas, dan rekam jejak masih benar-benar diterapkan.

