Karena itu, transformasi yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian target bisnis, tetapi juga pada penguatan budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebermanfaatan. Kindaris menambahkan, kepemimpinan di PNM harus mampu menjaga keseimbangan antara profesionalisme korporasi dan empati terhadap masyarakat yang dilayani.
“Kita bekerja dengan hati. Kita hadir untuk memberdayakan. Kita tumbuh bersama jutaan perempuan prasejahtera yang setiap harinya berjuang untuk keluarganya. Oleh karena itu, setiap keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin harus selalu berpijak pada empati, keteladanan, dan keberpihakan pada kemajuan bersama,” katanya.
Penguatan organisasi ini juga datang pada momentum penting setelah perubahan status perusahaan menjadi Persero. Perubahan tersebut membawa konsekuensi baru bagi PNM untuk semakin adaptif, agile, dan mampu menjawab ekspektasi pemegang saham sekaligus menjaga mandat pemberdayaan yang selama ini menjadi identitas perusahaan.
