Sementara itu, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dinilai membuat pelaku pasar cenderung mencari aset yang lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini masih diliputi ketidakpastian. Situasi tersebut turut memicu volatilitas di pasar keuangan global.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra menambahkan bahwa konflik AS dan Iran masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Menurutnya, belum adanya kesepakatan damai antara kedua negara serta meningkatnya ketegangan yang berdampak pada kenaikan harga minyak mentah menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Para analis menilai peluang rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS masih terbuka apabila sentimen negatif global terus berlanjut dan tidak diimbangi dengan faktor penguatan dari dalam negeri. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap mewaspadai pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.(Vinolla)
