Rekaman video orasi tersebut kemudian beredar luas setelah diunggah oleh sejumlah media sosial.Dari unggahan itulah muncul komentar Nana Kencanawati.
“Lagian siapa yang mau ngasih lo makan? Udah GEMBROT!!!,” tulis Nana Kencanawati.
Walaupun komentar itu kemudian dihapus, tangkapan layarnya sudah lebih dulu tersebar dan memicu reaksi keras dari masyarakat.
Respons negatif tidak hanya datang dari pengguna media sosial. Organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil juga ikut menyoroti peristiwa tersebut.
Ketua Umum PC PMII Cirebon, Ruslan Baidowi Kamal, menilai kritik yang disampaikan masyarakat seharusnya dijawab dengan argumentasi dan dialog, bukan dengan serangan terhadap fisik seseorang. “Ketika sebuah kritik dibalas dengan serangan fisik (ad hominem), di situlah kita tahu bahwa sang penguasa sedang mengalami kepailitan nalar berpikir dan krisis argumentasi,” kata Ruslan.
Menurut PMII, komentar bernuansa penghinaan fisik yang dilakukan oleh pejabat publik bukan hanya persoalan etika komunikasi, tetapi juga mencerminkan masalah dalam cara memandang kritik dari masyarakat. Di tengah meningkatnya sorotan publik, akun media sosial Nana diketahui menonaktifkan kolom komentar dan mengubah status akun menjadi privat.(Vinolla)

