Dalam paparannya, Sophia menjelaskan bahwa transformasi digital tidak hanya menghadirkan berbagai peluang bagi sektor jasa keuangan, tetapi juga meningkatkan kompleksitas risiko yang bersumber dari teknologi, sumber daya manusia, proses bisnis, maupun ekosistem digital yang semakin saling terhubung.
“Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan integritas publik pada era digital adalah meningkatnya ancaman fraud dan serangan siber yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pendekatan tata kelola modern tidak dapat lagi bersifat reaktif. Organisasi harus membangun resilience, yaitu kemampuan untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri secara cepat ketika menghadapi ancaman,” kata Sophia.
Menurutnya, tata kelola yang efektif juga akan melindungi kepentingan para pemangku kepentingan, termasuk nasabah, investor, konsumen, dan pihak terkait lainnya, serta mendorong akuntabilitas, transparansi, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Direktur Bidang Akademik PKN STAN Agus Bandiyono, Komite Etik Level Governance OJK Prof. Niki Lukviarman, Kepala OJK Jabodebek Edwin Nurhadi, dan Kepala OJK Provinsi Banten Adi Dharma serta diikuti oleh lebih dari 600 mahasiswa secara luring maupun daring.

