IPOL.ID – Potensi logam tanah jarang (LTJ) sebagai bahan baku industri pertahanan menjadi salah satu fokus pembahasan dalam audiensi Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan (BIK Intelhan) Kementerian Pertahanan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Iskandar Zulkarnain, Lampung.
Audiensi tersebut membahas pemanfaatan sumber daya mineral strategis melalui dukungan riset serta pengembangan teknologi ekstraksi dan pemurnian mineral guna mendukung kebutuhan industri pertahanan nasional.
Kepala Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Fajar Nurjaman, mengatakan PRTM BRIN didukung infrastruktur riset yang menunjang pengembangan teknologi pengolahan mineral, termasuk untuk mendukung hilirisasi.
“Fasilitas riset mineral BRIN di Lampung didukung oleh infrastruktur modern yang dioptimalkan untuk mendukung hilirisasi mineral, termasuk potensi ekstraksi tingkat lanjut bagi kebutuhan industri strategis nasional,” ujar Fajar.
Dengan kapasitas riset tersebut, Kementerian Pertahanan menyampaikan kebutuhan akan informasi ilmiah mengenai potensi mineral strategis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pertahanan.
Perwakilan Kementerian Pertahanan, Beny D. Widodo dan Bintang Berliant, menyampaikan bahwa penguatan kemandirian alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi salah satu fokus kementerian. Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Pertahanan melakukan pendataan potensi mineral strategis di berbagai wilayah Indonesia.
“Kementerian Pertahanan saat ini berfokus pada kesiapan alutsista dan logistik pertahanan dalam negeri,” kata Beny.
Ia menambahkan bahwa pihaknya ingin memperoleh gambaran mengenai potensi logam tanah jarang di Lampung yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Kami bermaksud mencari tahu secara pasti apakah terdapat kandungan mineral strategis atau Logam Tanah Jarang (LTJ) spesifik di wilayah Lampung yang dapat dipetakan untuk kemudian diolah oleh BRIN demi mencukupi kebutuhan material pertahanan di masa depan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Ahli Madya BRIN, Fika Rofiek Mufakhir, memaparkan potensi ekonomi pengembangan logam tanah jarang di Indonesia. Paparan tersebut mencakup karakteristik LTJ, kegunaannya, tren harga komoditas global, perkembangan riset BRIN, serta pengembangan teknologi ekstraksi dan pemurnian sebagai bagian dari pengembangan teknologi mineral kritis.
Fika juga menjelaskan bahwa logam tanah jarang memiliki berbagai aplikasi dalam industri berteknologi tinggi, termasuk sektor pertahanan.
“Logam tanah jarang dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi strategis, mulai dari komponen pemandu rudal, sistem radar, hingga komponen alutsista yang memerlukan material berkekuatan tinggi,” jelas Fika.
Pertemuan tersebut juga menjadi ajang pertukaran informasi mengenai kebutuhan material sektor pertahanan, potensi mineral strategis di Lampung, serta kapabilitas riset BRIN dalam teknologi ekstraksi dan pemurnian mineral. Pertukaran informasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam penjajakan kerja sama riset guna mendukung pemanfaatan mineral strategis bagi kebutuhan industri pertahanan nasional. (ahmad)
