“Pemerintah daerah setempat juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tetap waspada dengan dinamika alam yang mungkin terjadi. Kendati demikian, aktivitas harian masyarakat pagi ini dilaporkan berjalan dengan normal,” terang Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, Senin.
Oleh warga sekitar, Gunungapi Karangetang juga dikenal dengan nama Gunungapi Siau. Gunung itu merupakan salah satu gunung api paling aktif di wilayah Sulawesi.
Letusan gunung itu tercatat kali pertama pada tahun 1675 dengan erupsi eksplosif dari kawah utama. Catatan erupsi tercatat pada Oktober 1941, Desember 1962, April-Mei 1965, September 1976, Maret 1997, Maret-Oktober 2010, dan terakhir ada Februari 2019. Erupsi terakhir memicu luncuran lava pijar yang mengalir sejauh lebih dari 3 kilometer.
Gunungapi yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut ini mengalami peningkatan aktivitas sejak awal bulan Juli 2026. Pada periode 1-11 Juli 2026 kegempaan terekam 12 kali Gempa Guguran, 83 kali Gempa Hembusan, 7 kali Tremor Harmonik, 32 kali Tremor Non-Harmonik, 10 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak, 41 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 21 kali Gempa Vulkanik Dalam, 3 kali Gempa Tektonik Lokal, 4 kali Gempa Terasa pada skala I – III MMI, dan 127 kali Gempa Tektonik Jauh.
