Pada tahap wawancara, peserta dinilai tidak hanya dari kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mereka sebagai calon mahasiswa Indonesia di luar negeri. Aspek yang diujikan meliputi hafalan Al-Qur’an minimal satu juz, kemampuan membaca dan memahami kitab kuning (qira’atul kutub), kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, wawasan keislaman, moderasi beragama, serta wawasan kebangsaan.
Nilai akhir seleksi merupakan akumulasi dari 60 persen nilai CBT dan 40 persen nilai wawancara. Dari seluruh peserta, hanya 50 orang yang dinyatakan lulus sebagai calon penerima beasiswa utama, sedangkan 26 peserta lainnya ditetapkan sebagai calon penerima beasiswa cadangan.
Pimpinan Dayah Insan Qur’ani, Ust. H. Muzakkir Zulkifli, S.Ag., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.
“Alhamdulillah, ini merupakan kabar yang membahagiakan bagi seluruh keluarga besar Dayah Insan Qur’ani. Dari Aceh ada 5 santri, dan alhamdulillah dari kita ada 2 orang. Prestasi ini patut disyukuri karena Beasiswa Kerajaan Maroko merupakan salah satu program beasiswa yang memiliki tingkat persaingan sangat tinggi dengan jumlah peminat yang besar dari seluruh Indonesia,” ujarnya di Aceh, mengutip Sabtu (4/7/2026).

