“Bahkan bisa masuk ke permukiman. Kalau yang besar kan tidak bisa masuk. Kalau [untuk] daerah pegunungan [seperti ini lebih] cocok yang kecil kaya gini karena jalannya berkelok-kelok,” ujar Tito.
Ia berharap, kendaraan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelayanan masyarakat selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung, baik dalam memenuhi kebutuhan air bersih maupun penanganan kondisi darurat.
Sementara itu, Safrizal menjelaskan, kendaraan tangki air tersebut memiliki kapasitas 4.000 liter dan dilengkapi sistem penyemprot bertekanan 3–4 bar yang mampu menjangkau hingga sekitar 30 meter. Dengan spesifikasi tersebut, kendaraan dapat digunakan untuk mendistribusikan air bersih ke hunian sementara (huntara), membersihkan lingkungan terdampak bencana, hingga membantu pemadaman kebakaran.
“Jadi untuk permukiman juga bisa digunakan. Juga bisa digunakan untuk memenuhi air di huntara,” jelas Safrizal.
Melalui dukungan sarana operasional tersebut, Satgas PRR dan Kemendagri berharap pelayanan dasar kepada masyarakat terdampak dapat berjalan lebih optimal, seiring upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh Tengah dan Bener Meriah. ***

