“Angka ini baru sekitar 1,43 persen dari total keseluruhan santri kita. Kelompok santri ini boleh dikatakan sebagai pihak yang paling memerlukan sentuhan program gizi, namun ternyata baru sekitar satu persen yang bisa tersentuh. Ini yang perlu kita dorong bersama,” papar Menag, melansir Kamis (30/7/2026).
Menag menyadari bahwa sebagian besar pondok pesantren di Indonesia sudah memiliki dapur umum yang mandiri dan melayani kebutuhan makan santri. Meski demikian, intervensi MBG tetap penting untuk meningkatkan standar angka pemenuhan gizi para santri.
Pelibatan Ekosistem
Hal kedua yang diusulkan Menag adalah Badan Gizi Nasional (BGN) dapat melibatkan ekosistem pesantren dalam rantai pasok program ini. “Terkait dengan supplier bahan makanan untuk program MBG ini, kami mengusulkan agar BGN mungkin bisa memanfaatkan dan memberdayakan sumber-sumber bahan baku yang selama ini sudah ada dan dikelola secara mandiri oleh pesantren itu sendiri. Ini tak hanya akan menekan biaya logistik tetapi juga semakin menghidupkan kemandirian ekonomi pesantren,” usul Menag.
