Ketiga, Menag menyampaikan masukan terkait teknis distribusi logistik MBG agar disesuaikan dengan kebiasaan di lingkungan pesantren, salah satunya adalah kebiasaan Puasa Sunah Senin-Kamis. “Di pondok pesantren itu ada kebiasaan puasa Senin dan Kamis. Hal ini tentu kurang sinkron dengan jadwal distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang umumnya diantar pada siang hari. Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian jadwal distribusi, misalnya dikirim menjelang waktu berbuka puasa agar makanan yang diterima santri tetap fresh,” jelasnya.
Terkait tata kelola, Menag menekankan bahwa validitas data adalah syarat awal yang utama agar program MBG tepat sasaran. “Kalau data kita tepat, saya kira tidak akan sulit mengurai permasalahan. Tetapi kalau datanya tidak valid, pasti akan susah untuk menyelesaikan persoalan di lapangan,” ucapnya.
Ia memastikan bahwa struktur di bawah Kemenag siap bersinergi penuh dan mengambil langkah proaktif. “Kemenag akan segera bergerak dan ini akan diselesaikan dalam waktu yang secepatnya, insyaallah. Dengan data yang valid, Kementerian Agama melalui kelompok santrinya, madrasahnya, dan kelompok-kelompok lintas agama lainnya, insyaallah akan lebih praktis untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan lembaga pengelola program ini ke depan,” pungkas Menag.
