Sutrisno mengaku dimarah-marahi karena dianggap ngeyel dan sering mendapat teguran dari oknum polisi tersebut.
Dia pun mempertanyakan fungsi kepolisian di Pasar Induk Kramat Jati bukan mengatur pedagang tapi memberikan keamanan.
“Lah saya bilang, ‘Loh Pak, posisi Bapak ini kan sebagai pendamping. Bapak enggak punya hak untuk berbicara, apalagi ikut mengatur.’ Nah, di situ dia tambah marah, tambah maki-maki saya,” ujarnya.
Bahkan, oknum perwira itu meminta kepada pemilik lapak agar tidak sewakan tempat jualan itu ke Sutrisno.
Hal ini yang membuat Sutrisno merasa heran dengan oknum polisi yang ingin memutus mata pencahariannya sebagai pedagang.
“Maksud dia apa seperti itu? Kan dia enggak punya hak seperti itu,” ungkapnya.
Hasil penelusuran, oknum perwira Polri itu ternyata adalah Kapospol Pasar Induk Kramat Jati, Ipda Abdul Basit.
Saat dikonfirmasi awak media, Ipda Basit mengaku hanya terjadi salah paham dan pada saat itu hanya memberikan masukan kepada Sutrisno (pedagang pasar).
“Saya hanya kasih masukan ke dia, tapi di pelintir, biasa lah namanya di Pasar Induk. Bentar ini ada telepon dari Komandan ya,” ujar Basit melalui sambungan telepon awak media di Jakarta. (Joesvicar Iqbal)

