Dalam penyampaiannya, Syauqi Soeratno menekankan bahwa perubahan lanskap media saat ini dirasakan sangat kontras jika dibandingkan dengan era terdahulu, di mana saluran informasi masih sangat terbatas pada televisi, radio, dan surat kabar. Kehadiran media sosial kini membuat setiap orang bisa menjadi penyampai informasi, meskipun tidak sedikit yang mengabaikan uji kompetensi maupun kode etik jurnalistik. Akibatnya, muncul fenomena di mana masyarakat sering kali membuat penilaian (judgment) hanya dengan membaca judul berita tanpa mendalami isinya.
Tantangan Konten 6 Detik
Salah satu tantangan nyata yang disorot dalam diskusi tersebut adalah pemanfaatan algoritma media sosial yang sangat membatasi waktu perhatian (attention span) audiens. Perilaku pengguna yang terus menggulirkan layar (scrolling) memaksa pembuat konten harus mampu menarik perhatian dalam waktu yang sangat singkat.
Jika seorang pengguna berhenti selama enam detik pada suatu konten, algoritma akan merekamnya sebagai minat dan terus mengirimkan konten serupa selama hari-hari berikutnya. Fenomena ini menjadi tantangan luar biasa bagi komunikasi publik, termasuk bagi lembaga kepresidenan maupun media massa, untuk dapat menyampaikan pesan yang substantif dalam waktu kurang dari enam detik.
