Untuk itu, Once mengusulkan agar hasil penelitian sejarah dikemas dalam format yang lebih menarik, seperti film dokumenter, film pendek, web series, animasi, hingga game. Menurutnya, pendekatan tersebut akan membuat informasi sejarah yang telah teruji secara ilmiah lebih mudah diterima oleh generasi muda tanpa mengurangi kredibilitasnya.
“Kalau saya lihat, kadang-kadang penyajian hasil riset masih sangat formal. Apa tidak mungkin kita bikin yang lebih fun buat anak-anak muda supaya mereka juga bisa mengakses informasi yang teruji, kredibel, hasil-hasil dari para peneliti kita, namun dalam bahasa yang bisa dimengerti,” ujarnya.
Selain itu, Once mengusulkan adanya insentif bagi para peneliti yang berhasil menyebarluaskan hasil riset kepada masyarakat melalui pendekatan yang komunikatif dan inovatif. Menurutnya, langkah tersebut dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya populer berbasis penelitian sejarah yang berkualitas.8Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara BRIN, ANRI, serta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan BUMN dalam memperkuat ekosistem pelestarian cagar budaya. Sinergi tersebut dinilai dapat memperluas akses masyarakat terhadap arsip, sumber sejarah, dan hasil penelitian sehingga warisan budaya Indonesia tidak hanya terpelihara secara fisik, tetapi juga tetap hidup melalui narasi yang relevan, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman. (Tim Redaksi)

