Untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan buang air (MCK), sebagian warga harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju sungai terdekat. Meski kondisi air sungai kurang higienis, mereka tidak memiliki pilihan lain karena seluruh sumber air di sekitar permukiman telah mengering.
Berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Banjarnegara, dampak kekeringan terus meluas. Hingga awal Juli 2026, sedikitnya empat desa telah masuk kategori terdampak kekeringan. Sebanyak 801 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.735 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih.
BPBD Banjarnegara menyatakan akan terus menyalurkan bantuan air bersih secara bertahap ke desa-desa terdampak selama musim kemarau masih berlangsung. Penyaluran dilakukan secara bergiliran agar kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi.
Sementara itu, warga berharap distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Mereka khawatir apabila pasokan bantuan terhambat, masyarakat akan kembali bergantung pada air sungai yang kualitasnya tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari.

