Oleh Nedia Oktaviani
Humas BPJS Ketenagakerjaan
PAGI itu, Ibu Enung Mulyati melangkah pelan di jalanan Jatiluhur, mendorong troli kecil berisi sayuran untuk memulai usaha kecil-kecilannya berjualan lotek dan karedok disaat usianya sudah memasuki 61 tahun.
Sejak matahari belum sempurna naik, perempuan yang akrab disapa Bu Enung telah siap berjualan. Setiap hari, ia berjalan kaki dari rumah keponakannya membawa sayuran yang nantinya diolah menjadi lotek dan kardok berjualan di sekitar pabrik-pabrik di daerah jatiluhur yang dipenuhi lalu lalang truk-truk container bermuatan besar.
Bukan pekerjaan mudah memang mengingat usianta yang tidak muda lagi, tapi tak ada pilihan lain. Sejak kepergian anak bungsunya, Pamor, segalanya berubah.
Almarhum Pamor berusia 24 tahun adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Namun bagi Ibu Enung, dialah satu-satunya yang hadir dan setia menemaninya di hari tua. Sejak suaminya meninggal dunia, hanya Pamor yang tinggal bersamanya. Anak-anak lain sudah menikah dan sibuk dengan kehidupan masing-masing. Untuk sekedar berkomunikasi mungkin sudah sulit, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hanya kepada Pamor Bu Enung bergantung.

