Visanya visa belajar. Kurniawan berangkat dari Jakarta tahun 1998 –bersamaan dengan banyak orang Tionghoa meninggalkan Indonesia. Tahun itu memang tahun menakutkan bagi warga Tionghoa Indonesia –yang dikenal dengan kerusuhan Mei 1998.
Kurniawan kuliah di California State University Northridge, dekat Los Angeles.
Ketika visanya habis, Kurniawan berusaha menjadi warga negara Amerika. Ia memilih cara minta suaka politik –seperti yang sangat banyak dilakukan warga Tionghoa Indonesia di Amerika saat itu. Kerusuhan rasial Mei 1998 menjadi alasannya.
Kurniawan tidak berhasil. Permohonan suaka politik itu ditolak.
Pengadilan bahkan memutuskan agar Kurniawan mendeportasikan diri secara sukarela –agar tidak terkena hukum di sana. Ia diberi batas waktu: harus kembali ke Indonesia paling lambat akhir 2003.
Kurniawan memilih tetap di Amerika –hidup secara ilegal. Soal ekonomi tidak masalah baginya. Ia keluarga kaya. Apalagi paman-pamannya juga dikenal sangat kaya: Hendra Rahardja dan Edy Tansil. Mereka punya bank. Saya sudah lupa bank apa yang pernah mereka punya.
