Mungkin saja BUMN-BUMN itu tidak merasa menderita.
Di BUMN yang seperti itu tidak terlalu dipikirkan oleh komisaris dan direksinya. Toh perusahaan itu bukan milik direksi dan komisarisnya.
Bahkan mungkin jabatan direksi dan komisaris di sana masih jadi rebutan.
Ini berbeda dengan di swasta. Yang kondisi seperti itu sudah membuat direksinya tidak bisa tidur – -sampai pun tidak bisa lagi ereksi.
Memang masih tetap ada jalan keluar di BUMN infrastruktur itu: Waskita Karya misalnya, bisa jual jalan tol miliknya. Kalau itu dilakukan langsung kerugian itu berubah menjadi laba.
Walhasil, tidak wajar saja terlalu panik.
Tapi siapa yang mau beli jalan tol di masa yang begini sulit?
Tentu ada saja orang yang kelebihan uang. Masalahnya tinggal ini: mau dijual dengan harga berapa?
Pemilik uang akan selalu punya pikiran: di zaman yang sulit harga barang harus murah.
Pemilik jalan tol akan selalu menghitung: dengan harga murah itu apakah akan balik modal.
Akhirnya akan kembali ke hukum dasar bisnis: siapa yang efisien dialah yang unggul. Waskita akan bisa cepat menjual asetnya kalau bisa menawarkan dengan harga menarik. Tapi bagaimana bisa membuat harga menarik kalau biaya untuk membuat jalan tol itu dulu sudah terlanjur tinggi – -baik biaya konstruksinya maupun biaya-biaya bedak dan gincunya?

