Untuk penanganan banjir di Hulu Sungai Karang Mumus, dia menyatakan, pengerukan sedimen & pembersihan gulma di Waduk Benanga yang dibangun pada 1978 silam. “Waduk ini selain bermanfaat untuk irigasi seluas 800 ha, dengan luasan fungsional 200 Ha dan pemenuhan air baku 113 liter/detik, juga untuk mereduksi banjir sekitar 20% DAS Karang Mumus,” tambahnya.
Menurut Harya, dari kapasitas tampung awal waduk sebesar 1,49 juta m3 mengalami sedimentasi sampai 670 ribu m3 pada tahun 2019, sehingga untuk mengembalikan fungsi tampungan waduk mulai tahun 2020 dilakukan pengerukan sedimen & pembersihan gulma total sebanyak 211.000 m3 dan masih membutuhkan sekitar 718.000 m3.

“Pengerukan dilaksanakan dengan sistem hidrolis dengan menggunakan Kapal Keruk Cutter Section Dredger (CSD). Sedimen yang dikeruk ditempatkan di tempat tampungan sedimen (disposal) yang lokasinya terpisah dengan area genangan waduk,” kata Harya.
Berdasarkan data, kegiatan utama yang dilaksanakan pada 2020 dilakukan pembersihan gulma 8,9 ha dan sedimen 111.726 m3. Pekerjaan dilanjutkan pada tahun 2021 pembersihan gulma 13,96 ha dan sedimen 99.303 m3 yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Insan Cita – Millenia (KSO) dengan nilai kontrak Rp16,32 miliar, saat ini progres pekerjaannya sebesar 60,37%.
