Kimin menambahkan, upaya mencapai zero emission bagi industri, dapat dilakukan dengan dua cara. Yakni, melakukan efisiensi energi dan memakai energi pengganti.
“Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini industri dalam negeri banyak menggunakan energi tradisional seperti batubara. Ke depan mungkin perlu dikonsiderasi dengan mengeksplor tenaga air atau solar panel,” sambung Kimin.
Kimin berpandangan, penerapan kebijakan tersebut akan memberikan pengaruh terhadap industri baja, khususnya dari sisi harga. “Jika kita tak melakukan sesuatu, kita khawatir tidak bisa menjual atau bersaing di industri baja,” pungkas Kimin.
Direktur Public Relations GRP Fedaus menambahkan, penerapan Environmental, social, and governance (ESG) yang merupakan bagian dari SDG’S, merupakan komitmen para pemimpin dunia untuk menjaga kelangsungan lingkungan. Penerapan ESG tersebut, jelasnya, akan berdampak terhadap perusahaan, antara lain dampak sosial kepada masyarakat.
Bahkan di sejumlah negara, program tersebut memberikan pembiayaan kepada suatu perusahaan, jika perusahaan tersebut melakukan sertifikasi terhadap ESG. “Jadi, kita tidak melihat perusahaan hanya mengejar keuntungan. Tetapi, mereka juga melihat tanggung jawab kepada lingkungan,” ujar Fedaus.
