Menurut Syafruddin, dari kejadian tersebut, dapat ditarik penjelasannya, yakni masyarakat Kota yang masih labil karena sangat mudah terprovokasi.
“Dari kejadian antrean ini kita bisa melihat dua hal. Pertama, masyarakat Kota Sorong masih dapat dikatakan masyarakat labil. Kedua, masyarakat Kota Sorong hanya mengambil informasi dan ditelan mentah-mentah tanpa mau Cross check , akhirnya semua menjadi latah ikut mengantre” kata Syafruddin dikutip dari siaran tertulis Pertamina, Selasa (9/11).
Berdasarkan catatan penjualan rutin harian di SPBU Coco di Sorpus sebanyak 30 KL, tersisa sekitar 5 sampai 7 KL yang akan dijual di hari berikutnya. Bahkan, pada hari berikutnya ada penambahan stok yang dikirimkan dari Fuel Terminal Pertamina Sorong, sedangkan SPBU Hanseng memiliki stok 10 ton, dan akan dikirim 10 ton stok tambahan.
Syafruddin juga menyebutkan adanya indikasi permainan dari spekulan yang tidak bertanggung jawab, dengan memanfaatkan kepanikan warga sehingga menipu dengan menampung BBM untuk kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga normal.
