“Seharusnya serikat pekerja berpikir, agar kinerja pendapatan Pertamina bertambah baik. Bukan melakukan aksi mogok kerja,” ujar dia.
Ariel ADO menilai, harusnya FSPPB bersyukur karena tingkat kesejahteraan karyawan Pertamina jauh lebih tinggi dibandingkan institusi lain.
Kondisi demikian, lanjutnya, tentu berbeda jauh dibandingkan penghasilan para pengemudi online yang akan terdampak aksi tersebut. Rata-rata penghasilan pengemudi online, lanjutnya, hanya Rp150 ribu – Rp200 ribu per hari. Jika dihitung, para driver online hanya membawa pulang penghasilan sebesar Rp80 ribu. Bahkan di sejumlah daerah, penghasilan pengemudi berada di bawah UMR.
Apalagi, lanjutnya, masa libur Natal dan Tahun Baru adalah harapan pengemudi online untuk meraih penghasilan lebih banyak.
“Di mana empatinya? Kalau mereka sampai melakukan aksi, pekerjaan kita terganggu. Bagaimana nanti nasib kami dan keluarga kami?” ujar Taha.
Saat ini Asosiasi yang dipimpinnya beranggotakan 10 ribu lebih anggota yang tersebar di 16 Provinsi. Taha membeberkan di wilayah Jakarta ada sekitar 1.500 anggota pengemudi online, baik roda dua atau roda empat.
