Menurut Dian, jebloknya elektabilitas Airlangga tak berbanding lurus dengan jabatan yang melekat pada dirinya. Misalnya, Airlangga menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Koordinator Penanganan COVID-19 di luar Jawa-Bali.
Dia mengatakan, seharusnya elektabilitas Airlangga mengalami kenaikan jika bekerja keras untuk masyarakat. “Itu belum termasuk (strategi) baliho-baliho Airlangga yang disebar di sejumlah titik. Tapi, tetap saja elektabilitasnya jeblok,” sesalnya.
Airlangga juga dianggap gagal membangun kejayaan Golkar. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan kursi Golkar di DPR.
“Perolehan kursi Golkar di DPR pada Pemilu 2019 85 kursi atau 12,31 persen. Padahal Pemilu 2014 kursi DPR Golkar 91 kursi atau 14,75 persen. Dan pada Pemilu 2009, kursi Golkar di DPR 107 kursi atau 14,45 persen. Kalau begini terus wajar jika kader muda Golkar resah karena Airlangga tak bisa membawa Golkar berjaya,” katanya.
Dian lantas menyayangkan kinerja Airlangga, yang tidak bisa membawa Golkar lebih baik. Dan bukan tidak mungkin, Golkar akan semakin terpuruk pada Pemilu 2024.
