Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Alih-alih Promosi, Diduga Gekraf Paris Fashion Show Dinilai Mencoreng Muka Indonesia
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Ekonomi > Alih-alih Promosi, Diduga Gekraf Paris Fashion Show Dinilai Mencoreng Muka Indonesia
EkonomiHeadline

Alih-alih Promosi, Diduga Gekraf Paris Fashion Show Dinilai Mencoreng Muka Indonesia

Farih
Farih Published 17 Mar 2022, 20:30
Share
4 Min Read
gekrafparisfashionshow. FotoInstagram
#gekrafparisfashionshow. Foto: Instagram
SHARE

IPOL.ID – Gaduh klaim brand lokal tampil di Paris Fashion Week ‘Gadungan’ terus menuai kontroversi. Alih-alih promosikan merek lokal, diduga acara yang dihelat Gekraf tersebut dinilai mencoreng muka Indonesia di mata dunia. 

Selain diprotes kalangan praktisi fashion, seperti desainer kondang Oscar Lawalata dan lainnya, kalangan legislator dan akademisi juga bersikap senada. 

Wakil Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian menyebut dirinya sangat menyayangkan ada miskomunikasi perhelatan yang seolah-olah Paris Fashion Week namun ternyata bukan. 

“Karena itu juga membawa nama kita (Indonesia), menjadi kurang baik. Tapi saya yakin ke depan memang produk-produk kita membutuhkan event-event dan momen-momen untuk memperkenalkan produk kita keluar, dan ini menjadi PR juga untuk pemerintah dan DPR,” ujarnya pada wartawan, Kamis (17/3).

Dia mengaku akan mengevaluasi apa benar kegiatan itu menghabiskan APBN dan tidak tepat sasaran. “Nanti kita evaluasi lah, karena kita juga pada saat ini membutuhkan kesempatan untuk ekspose. Walaupun dengan digital ekonomi yang sedang dikembangkan, kita sebenarnya bisa saja memasarkan sesuatu tanpa menghadirkan fisiknya. Ini bahan evaluasi kita bersama supaya tidak terjadi lagi hal seperti ini,” katanya.

Hetifah menyebut memang Gerakan Ekonomi Kreatif memang bukan bagian dari pemerintah. Namun tidak tertutup kemungkinan dugaan ada penggunaan dana dari APBN. 

Di kesempatan terpisah, pengajar hubungan internasional Dinna Prapto Raharja menyesalkan bahwa Gekraf menggelar acara yang penamaannya justru mengundang protes dari Paris Fashion Week. 

“Alih-alih menciptakan brand baru yang membanggakan Indonesia, justru mencoreng nama Indonesia dan tidak produktif bagi dunia fashion dan industrinya di Indonesia,” tutur pendiri Synergy Policies kepada wartawan, Kamis (17/3).

Dirinya pernah melakukan studi kecil untuk menjajaki bentuk promosi yang disarankan oleh pelaku industri fashion, dan menemukan bahwa fashion itu ada ragam tingkatan kreativitas serta pangsa pasar. 

“Mulai dari fashion barang-barang konsumen yang sifatnya untuk diproduksi massal seperti pakaian dan kelengkapan aksesoris untuk sehari-hari sampai fashion yang sifatnya untuk diproduksi dalam jumlah terbatas agar unik dan harga jualnya terjaga tinggi,” tukasnya.

Dia mencontohkan produk fashion terbatas seperti haute couture, atau tenun ikat dan batik kualitas tinggi.  Menurutnya, masing-masing butuh bentuk promosi yang berbeda-beda. 

“Yang haute couture butuh fashion show tetapi kemasannya bisa diolah agar menguasai dulu pangsa pasar terdekat. Misalnya saja bisa dibuat fashion show tahunan untuk mendahului program penghargaan musik/film se-Asia seperti Mnet atau Asian Film Awards Academy, atau se-Indonesia. Tapi untuk produk-produk sehari-hari, yang penting justru kerjasama dengan berbagai brand besar menitipkan desainer-desainer Indonesia memproduksi sebagian koleksi musim panas atau musim semi misalnya,” ujarnya. 

Dinna berpendapat, bisa juga dikembangkan program promosi di kalangan kaum muda Indonesia di pentas-pentas seni sekolah. Cara ini bisa dilaksanakan karena sebenarnya sekolah-sekolah seni sebelum pandemi sudah punya program kunjung ke sekolah-sekolah. 

Selain itu, dirinya juga menyerukan agar pemerintah semestinya perlu konsisten membesarkan nama Indonesia dan Fashion Weeknya. 

Ina Raya, Desainer juga Founder Komunitas Fashionpreneurindo menyayangkan jika kepergian para brand lokal hanya sekadar mengejar branding atau prestis saja.

“Ini kembali pada kejujuran, kalau memang tidak ke PFW yang asli ya jangan pakai hastag PFW. Bukannya membanggakan tapi malah memalukan,” sesalnya.

Ina menyebut sayang sekali jika kepergian mereka hanya sekedar untuk prestis saja, dan tidak untuk branding. “Jika memang untuk branding produk Indonesia, oke saja, tapi harus dipersiapkan dengan matang,” tandas dia. 

Dia menyebut, Indonesia sudah punya Indonesian Fashion Week (IFW) yang prestisnya sudah mendekati PFW, dan hal ini tugas Kemenparekraf untuk lebih menggaungkannya lagi. 

“Saya yakin IFW bisa kok jadi ajang bergengsi sekelas PFW, apalagi Indonesia punya desainer-desainer bagus, yang kurang cuma publish ke luarnya saja. Ini yang harus ditingkatkan,” harap dia. (ibl/msb)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: paris fashion, paris fashion show
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article IMG 20220317 134243 Gandeng  Eksekutif Tokocrypto, Cydonia Fund Beraspirasi Bangun Ekosistem Web3 Berskala Global
Next Article Kapuspenkum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana. Foto Puspenkum Kejaksaan Agung Usut Penyalahgunaan KITE, Kejagung Periksa Kabid Bea dan Cukai Kanwil Jateng

TERPOPULER

TERPOPULER
kereta api
Jakarta Raya

Viral! Pasangan Diduga Lakukan Aksi Asusila di Jalur Rel Jatinegara

Nasional
Dedi Mulyadi Soroti Guru BK Potong Paksa Rambut 18 Siswi SMKN 2 Garut: ‘Kan Tinggal Diingatkan’
07 May 2026, 17:20
Telkom
Bumi Berseru Fest 2025: Telkom Apresiasi 17 Inovator Lingkungan Terbaik
07 May 2026, 14:25
Hukum
Dalami Korupsi di Madiun, KPK Cecar Sekretaris DPRD, ASN hingga Pegawai BTN
07 May 2026, 21:11
Ekonomi
Dukung Hilirisasi dan Daya Saing, BPDP Ramaikan Rangkaian Hai Sawit Simposium 2026
07 May 2026, 19:26
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?