Uniknya, dari hasil survei yang ada, lanjut Rikando, dua kelompok ini sama-sama punya keinginan untuk keluar menikmati kuliner secara dine in di kafe maupun resto guna melepas penat. Sikap inilah yang jadi potensi besar dari binis kafe dan resto secara offline.
“Dari dua kelompok ini, ada satu kesamaan, sama-sama sebenarnya ingin keluar menikmati kuliner, berwisata dan sebagainya. Dari beberapa segmen responden yang kami riset, ada yang menghabiskan 1-5 juta per bulan, per individu untuk wisata kuliner atau ngopi. Bahkan ada yang sampai menghabiskan Rp30 juta meski jumlahnya hanya 3%,” urai Rikando.
Kesamaan lainnya, sambung dia, sekalipun berani untuk berkunjung ke kafe atau resto dan makan secara dine in. Mayoritas dari kedua kelompok ini sama-sama punya sikap mementingkan protokol kesehatan dengan memakai masker atau menggunakan hand sanitizer.
“Uniknya, ada faktor keramaian sebagai penentu. Ketika melihat satu kafe yang akan dikunjungi, kapasitasnya lebih dari 75%, sebanyak 88,39% responden memilih membatalkan niatnya berkunjung dan mencari lokasi lain,” ungkapnya.

