Giri Buana pun sepakat, digitalisasi tak bisa diabaikan begitu saja oleh pelaku usaha kuliner, sekalipun efek pandemi sudah mulai mereda.
“Pandemi mengajarkan kita untuk pintar melakukan efisiensi. Konsep ghost kitchen buat usaha kuliner misalnya, memangkas banyak investasi dan overhead cost. Makanya itu sangat berkembang di luar negeri. Bukan sekadar karena ada pandemi tapi memang sudah saatnya era seperti ini,” imbuhnya.
Selain itu, dia menyarankan para pelaku usaha kafe dan resto dapat terus berinovasi pada produknya. “Jangan terlalu yakin produk kita sudah kuat. Inovasi tetap perlu. Jangan pikir sudah go digital dengan daftar di GoFood atau GrabFood kita tinggal duduk manis. Banyak hal teknis harus kita kuasai, seperti foto produk dan grafis harus bagus di online,” serunya.
Terakhir, dia mengingatkan para pelaku usaha kuliner memperhatikan standarisasi produk makanan dan minumannya.
“Meski diusaha kafe dan resto ada sesuatu bisa kita jual seperti kenyamanan, estetika atau suasana outdoor, produk makanan tetap penting. Kalau rasanya enak, mereka akan kembali dan enaknya itu harus konsisten (terstandar),” tutup dia. (ibl/msb)

