Selain pembicara dari Indonesia, konferensi regional ini juga menghadirkan pembicara dari sektor regulasi di negara-negara China, Kamboja, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam.
Perwakilan dari operator layanan terkemuka seperti China Mobile dan Axiata, vendor telekomunikasi terkemuka seperti Huawei, dan organisasi industri internasional termasuk GSMA. Konferensi ini dibuka secara resmi oleh Mario Maniewicz, Director of Radio Communications Bureau ITU dan Masanori Kondo, Secretary General APT.
Terpisah, Chief Technology Officer Huawei Indonesia Alex Ying mengatakan, konektivitas digital inklusif amat penting dalam upaya mewujudkan lingkungan yang lebih baik melalui kolaborasi teknologi inovatif. Sebagai syarat kunci konektivitas seluler, spektrum merupakan sumber daya yang sangat langka dan luar biasa penting.
Spektrum IMT terharmonisasi global, antara lain 700MHz, 3,5GHz, dan 6GHz berlisensi, akan menjadi penentu utama dalam perjalanan inovasi dan inklusi digital masa depan.
“Saat ini di Indonesia ada lebih dari 370 juta koneksi seluler, dan penetrasi ponsel pintar telah melampaui 90%. Meningkatnya konektivitas pita lebar seluler telah berdampak pada persyaratan yang berlaku atas spektrum,” ujar Alex.
