“Yang beda dari fashion show kali ini karena mengangkat hasil karya kerajinan Nusantara. Bahkan cuaca pun tidak menjadi halangan dalam pelaksanaan ini. Walaupun hujan di Kawasan Candi Borobudur namun kita tetap jalan karena antusias dari seluruh pendukung acara,” ungkap Hilmar akhir bulan lalu dilansir kemdikbud.go.id.
Dirjen Hilmar berharap bahwa ke depan akan terus bermunculan hasil-hasil karya nusantara. Kemendikbudristek akan mendukung dan selalu terbuka dalam hal pelestarian budaya. “Asalkan apa yang akan dimunculkan dan pesannya harus kuat,” tekannya.
Sebagaimana wastra Nusantara lain yang sarat akan nilai budaya yang tinggi, kain tenun Sumba memiliki keindahan dari motif yang variatif dan nilai filosofis yang harus tetap dijaga. Hal tersebut yang membuat Edward Hutabarat selalu menjaga pakem dari kain tersebut ketika mengembangkannya.
Edward menilai pentingnya pakem ini karena Kain Sumba (juga kain-kain peradaban dari kepulauan lain) adalah Kain Peradaban. Mereka dicipta untuk melengkapi sebuah seremoni, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Dibalik keindahan kain tenun ini, ada serangkaian proses yang panjang dan tidak mudah. Hal ini juga yang turut merepresentasikan kesabaran penenun lokal dalam membuat kain tenun tersebut.

