“Ini sebenarnya fenomena alam yang dapat terjadi karena kuasa Allah. Jika orang-orang menghubungkannya dengan hadis tentang kiamat, mengapa mereka tidak terlebih dahulu menghubungkannya dengan kebesaran Allah?” ugkap Amiruddin dilansir laman PP Muhammadiyah, Rabu (18/1).
Amir juga menyarankan agar memandang fenomena ini dalam kacamata burhani. Secara ilmiah, ada kemungkinan, curah hujan yang tinggi dalam durasi yang panjang menjadi penyebab utama tumbuhnya vegetasi.
Karenanya, lanjut Amir, tidak perlu terlalu cepat menyimpulkan hal tersebut sebagai tanda-tanda kiamat. Sebab karena cepat atau lambat, kiamat pasti akan terjadi.
Hal ini sejalan dengan ungkapan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Divisi Fatwa, Muchammad Ichsan. Dalam Pengajian Tarjih pada tahun lalu, Ichsan mengatakan, manusia tidak akan mampu memprediksi kedatangan kiamat menggunakan kacamata sains.
Apa yang penting dilakukan saat ini ialah fokus mengerjakan amal salih, dan tidak perlu menerka-nerka kapan akan terjadinya kiamat.
