“Iman dan ilmu akan membuat kaum muslimin tinggi derajatnya. Maka tidak cukup kita beriman. Kalau kita ingin meningkatkan kualitas hidupnya, berderajat tinggi, dengan semangat Isra Miraj, mari kita tingkatkan kualitas ilmu,” pungkas Haedar.
Adanya kombinasi antara iman dan ilmu dalam peristiwa Isra Miraj ini memberikan pelajaran agar senantiasa melibatkan dimensi metafisika. Artinya, dalam setiap laku aktivitas sehari-hari termasuk dalam keilmuan, mesti melibatkan aspek-aspek ruhaniah. “Ilmu tidak sekadar pengetahuan verbal tetapi juga ada dimensi yang bersifat ilmu ilahiyah-profetik,” ucap Haedar.
Menurut Haedar, iman dan ilmu juga mesti melahirkan pribadi yang gemar melakukan amal saleh. Dalam artian, menebarkan kehidupan yang serba utama, membawa pada kondisi yang maslahat, dan menolak segala potensi yang mengandung mudharat—baik untuk diri sendiri, keluarga, atau bahkan lingkungan bangsa kemanusiaan semesta.
Adanya perintah melaksanakan sembahyang lima waktu dalam rangkaian peristiwa Isra Miraj merupakan medium untuk menyucikan hati. Menurut Haedar, dengan salat yang khusyuk, jiwa akan bersih. “Hati yang khusyu’ akan melahirkan jiwa yang teduh, jiwa yang damai, jiwa yang selalu memancarkan kebaikan. Khusyuk dalam salat juga akan melahirkan jiwa yang suci tapi tidak merasa semuci,” terangnya.
