Menurut Haedar, salat juga harus melahirkan aktualisasi kehidupan yang menjauhkan diri dari segala bentuk yang keji dan buruk. Baik di dunia realitas maupun maya, berbagai godaan untuk berbuat keburukan harus dihindari dan dijauhi dengan segenap jiwa.
Haedar juga menegaskan bahwa Isra Miraj harus menjadi momen untuk mempertegas posisi Rasulullah sebagai teladan hidup (uswah hasanah). Pasalnya, Nabi SAW membawa misi untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Dengan menempatkan Nabi SAW sebagai kompas moral, maka akan lahir peradaban utama. Karena itulah, ranah publik dan kehidupan tidak akan lagi dikatrol oleh orientasi nilai kegunaan dan pragmatisme, melainkan berpedoman pada nilai-nilai ideal seperti kepantasan, kebenaran, kelaziman, dan lain-lain.
“Mari kita wujudkan kehidupan yang bermoral dan beretika, berakhlak baik dalam kehidupan pribadi, bangsa, dan kemanusiaan semesta, termasuk kehidupan politik, ekonomi, budaya. Kehidupan memerlukan etika, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas,” terang Haedar.
