“Pembeli kan juga tahu sekarang harga pada naik, jadi enggak ada yang mengeluh (porsi nasi berkurang). Kan mengurangi porsinya juga enggak terlalu banyak,” ujarnya.
Mukroni menjelaskan, para pedagang Warteg mengaku heran dengan alasan pemerintah yang menyebut mahal dan langkanya harga beras imbas banyak petani gagal panen.
Sebab, di media massa mereka melihat pemerintah sudah melakukan panen beras di sejumlah wilayah. Kemudian operasi pasar menggunakan beras impor yang dijual seharga medium.
“Karena biasanya enggak seperti ini, baru kali ini. Cuaca juga enggak terlalu buruk seperti dulu. Enggak tahu ada permainan atau bagaimana. Ini urusan pemerintah yang digaji rakyat,” ungkap Mukroni.
Berdasar data pada laman http://pibc.foodstation.co.id/rice_price per Senin (13/2), harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, masih berkisar di atas Rp10.000.
Sementara itu, Pasar Induk Beras Cipinang merupakan sentra penjualan beras menjual IR-64 I seharga Rp11.825, IR-64 II seharga Rp10.875 per kilogram dan IR-64 III seharga Rp10.075 per kilogram. (Joesvicar Iqbal)
